Showing posts with label Ibu Anak. Show all posts
Showing posts with label Ibu Anak. Show all posts

Wednesday, November 10, 2010

Ciri-Ciri Anak Kritis


Detail Berita

SEBAGAI orangtua, janganlah bosan menjawab pertayaan dari si buah hati. Komunikasi intensif akan mengasah daya kritis mereka. Daya kritis akan menumpul jika seorang anak bertanya, tapi tak ditanggapi orangtua maupun dewasa di sekitarnya.

Pertanyaan dari anak sebaiknya dijawab sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Selain itu, buatlah dia tergelitik dengan apa yang ditanyakan. Misalnya, jika anak bertanya, “Darimana saya berasal?”, orangtua bisa menjawab, “Dari perut Ibu. Adi pernah lihat perut Tante Lita yang gemuk, kan? Di perutnya itu ada adik”.

Ketelatenan orangtua dalam menjawab akan mendorong anak untuk belajar menganalisa persoalan dari berbagai sudut. Untuk itu, lebih baik lagi jika orangtua tidak hanya memberinya jawaban, melainkan secara perlahan mengajaknya terlibat mencari jawaban.

"Misalnya, bila anak bertanya ‘Roda sepeda kok bundar, ya?’, cobalah jawab dengan, “Bagaimana ya kalau rodanya berbentuk segiempat?’. Jawaban seperti ini akan memberikan peluang bagi anak untuk mencari jawaban sendiri. Mungkin ia akan menjawab, “Ya, enggak enak naik sepedanya’. Dengan begitu, anak sudah tahu dan mengerti jawabannya," kata Pradwana Paramitha, psikolog asal Surabaya.

Semakin orangtua mengajak anak berdialog, akan membuat buah hati semakin kritis. Jiwa yang kritis akan menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi cerdas dan pemberani. Namun, orangtua harus bijak mengarahkan agar potensi terarah dengan baik.

Berikut ciri-ciri anak kritis:

Memiliki kemampuan berkomunikasi

Kemampuan berkomunikasi anak kritis cukup baik, bicaranya cukup jelas, dan mampu menganalisa. Kemampuannya dalam menganalisa menyebabkannya tidak menerima begitu saja apa yang dikatakan orangtua, orang dewasa, atau orang yang lebih tua darinya.

Namun, anak yang suka bertanya belum tentu anak yang kritis. Seorang anak yang gemar bertanya, tapi hanya mengulang pertanyaan tanpa bertanya lebih mendalam, bukanlah anak kritis. Anak yang kritis tak sekadar bertanya, tapi juga membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Memiliki kepercayaan diri tinggi

Anak yang kritis memiliki kepercayaan diri tinggi. Misalnya, ia tidak takut pada orang baru, bahkan berani menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran. Untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, orangtua dan orang dewasa di sekitarnya perlu memberikan penghargaan pada apa yang ia lakukan.

Kadang tidak sopan

Karena memiliki rasa percaya diri yang tinggi, anak akan berani bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya pada orang yang lebih tua. Biasanya, jika dilarang, anak yang kritis akan balik bertanya, “Mengapa dilarang?”.

Kadang, anak dinilai tidak sopan bila menanyakan hal-hal yang bagi orang dewasa tabu untuk ditanyakan. Misalnya, ”Mengapa Tante gemuk sekali?”. Anak tentu tidak tahu bahwa pertanyaan tersebut bisa menyinggung perasaan orang yang ditanya. Oleh karena itu, agar anak pemberani tapi tetap sopan, jelaskan padanya tentang hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain dan menghargai orang lain.

Memiliki kemampuan bahasa dan rasa yang baik

Karena banyak bertanya dan mendengar, anak kritis akan semakin mampu mengucapkan apa yang ia pikirkan. Pengutaraan tentang apa yang ia pikirkan ini tentunya juga akan membuat ia dengan sengaja berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan bahasa juga akan semakin banyak diperoleh ketika ia sudah sekolah, lewat buku, guru, dan teman-temannya. Tapi, bukan berarti ia akan berhenti bertanya, karena bisa jadi pertanyaannya akan semakin seru.

Dalam mengembangkan daya kritis anak, orangtua harus sering mengajaknya bicara. Beri dia stimulus untuk bertanya hal-hal yang ingin diketahuinya, mencari jawaban bersama dari pertanyaan-pertanyaan anak sehingga anak mampu menganalisa apa yang baik dan tidak baik untuknya.

Kemudian, jangan membatasi rasa ingin tahu anak. Biarkan anak bereksperimen dengan apa yang ingin dilakukannya, tentu dengan pengawasan orangtua. Orangtua hanya memberikan motivasi serta mengontrol perilaku anak apabila perilaku yang dilakukannya kurang pantas atau tidak sopan. Sampaikan dengan bahasa yang halus, mudah dimengerti, serta berikan penjelasan sehingga dia bisa menerima kesalahannya.

Mengembangkan Kecerdasan si Buah Hati


Detail Berita

KECERDASAN interpersonal dan intrapersonal merupakan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Kembangkan kedua kecerdasan ini untuk mengantarkan anak menuju sukses.

Cerdas berarti mampu menjelaskan sesuatu yang rumit secara sederhana kepada orang lain. Kecerdasan majemuk atau multiple intelligence merupakan kecerdasan baru yang telah mendapatkan pengakuan dunia sebagai salah satu teori belajar yang paling inovatif pada abad ke-20.

Dalam teori yang dikemukakan seorang psikolog dari Harvard University, Howard Gardner, bahwa terdapat delapan jenis kecerdasan dasar yang terbentuk dalam kecerdasan majemuk.

Kecerdasan tersebut di antaranya kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Bisa dikatakan kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan sosial.

“Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekspresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain, dan ia mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi,” sebutnya.

Kecerdasan ini juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berlangsung antar dua pribadi, mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil dari interaksi individu dengan individu lainnya.

Dikatakan oleh praktisi dan konsultan Finger Print Analysis yang juga pemerhati pendidikan anak, Irene F Mongkar, bahwa anak dengan kecerdasan ini memiliki ciri yaitu peka dan mudah memahami perasaan orang lain.

Mereka juga mudah berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Sementara cara untuk menstimulasi anak dengan kecerdasan interpersonal adalah dengan mengikutsertakannya dalam kelompokkelompok sosial seperti klub bernyanyi, pramuka, dan lain-lainnya.

Stimulasi juga dapat dilakukan dengan cara memperbanyak dialog tentang kejadian di seputar kehidupannya, tentang teman-teman di sekolah misalnya. Dengarkan anak bercerita, mengungkapkan perasaan dan pemikirannya.

“Profesi dengan kecerdasan interpersonal misalnya ialah pengacara, sosiolog, mediator, psikolog, dan lainlainnya,” ucapnya. Kecerdasan dasar juga meliputi kecerdasan intrapersonal.

Masih dijelaskan Irene, kecerdasan ini memiliki ciri yaitu mengenal dirinya dengan baik, termasuk kelebihan dan kekurangannya, mampu introspeksi diri dan memiliki niat besar untuk memperbaiki diri.

Mudah menerima input atau bahkan kritikan terhadap dirinya. Misalnya model rambut tidak cocok dengan dirinya. “Beberapa dari mereka ada yang senang akan kesendirian, di antaranya senang berdialog dengan diri sendiri,” sebutnya.

Irene menyarankan, agar potensi anak dalam intrapersonal bisa berkembang dengan baik dan maksimal, maka bisa dilakukan dengan memperjelas apa cita-citanya.



sumber : lifestyle.okezone.com
 
coompax-digital magazine