Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Saturday, August 28, 2010

17 Ramadhan, Malam Nuzulul Qur’an

Turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) untuk yang petama kalinya biasa diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang disebut dengan Nuzulul Qur’an. Turunnya Al-Qur’an untuk yang pertama kalinya merupakan tonggak sejarah munculnya satu syari’at baru dari agama tauhid yaitu agama Islam. Sebagai penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya.

Al-Qur’an turun sebagai pemecah kebuntuan di saat bejatnya moral bangsa Arab sudah sampai pada puncaknya, budaya jahiliyah lagi merajalela, barbarismenya hukum padang pasir dengan filosofi siapa yang kuat dialah yang menang dan hancurnya tatanan kemasyarakatan karena tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karena itulah Allah membuat satu penyelamatan dengan sebuah skenario yang jitu yang menyelamatkan bangsa Arab dari kehancuran dengan diutusnya seorang nabi akhir zaman yaitu Muhammad saw.

Menurut tarikh Islam, Al-Qur’an turun untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad sedang berkhalwat (semedi) di gua Hira. Firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”(97:1). Yang dimaksud dengan malam kemuliaan menurut para ulama adalah malam Lailatul Qadar. Atau dalam ayat lain Allah mengatakan: “Haa miim [Demi kitab (Al-Qur'an ) yang menjelaskan]. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (44 : 1 – 3). Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 km dari kota Makkah. Di gua itulah Muhammad merenung dan berfikir meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk merubah moral bangsanya yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah beliau didatangi Malaikat Jibril yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya, dan saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Yang paling menarik dari proses turunnya wahyu itu adalah disaat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk iqra (membaca). Jibril mengatakan: “Iqro yaa Muhammad !” (Bacalah hai Muhammad). Saat itu Muhammad menjawab:“Maa ana biqori?”. Untuk pengertian ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa pengertiannya adalah “Bukanlah aku orang yang bisa baca?”. Atau ada juga yang mengartikan “Apa yang harus aku baca?”. Konotasinya adalah jika kita mengambil pengertian yang PERTAMA berarti kita menganggap Muhammad tidak bisa membaca (bodoh). Sedangkan pengertian yang KEDUA konotasinya adalah bahwa Muhammad bisa baca tapi dia bingung apa yang harus dibacanya.

Penulis sendiri sependapat dengan pengertian yang KEDUA, yaitu Muhammad bisa baca tapi bingung apa yang harus dibacanya, bagaimana pendapat anda?. Karena pengertian yang pertama sepertinya sangat merendahkan Muhammad Rasulullah. Dan ini mengandung unsur pelecehan kepada nabinya umat Islam. Sementara sejarah sudah membuktikan sejak dari usia 12 tahun Muhammad sudah biasa diajak berdagang ke luar negeri dan sudah terbiasa dengan transaksi jual beli di negeri orang bersama pamannya (Abu Thalib) yaitu ke negeri Syam atau Syiria (sekarang Suriah). Menurut logika orang sehat, bahwa mustahil orang yang sudah sejak kecil belajar dan melakukan berdagang ke luar negeri yang levelnya sudah eksport import, apalagi disaat beliau berusia 25 tahun sudah dipercaya sebagai saudagar dan menjadi orang kepercayaan Siti Khodijah (yang nantinya menjadi istri beliau) itu dikatakan sebagai orang bodoh. Sangat ironis memang kedengarannya, tapi itulah yang sering didengung-dengungkan orang bahkan dibesar-besarkan oleh umat Islam sendiri. Padahal itu adalah hasil kerjanya para orientalist yang bertujuan meremehkan umat Islam. Menurut penulis sendiri orang yang sudah terbiasa pulang pergi ke luar negeri pasti mempunyai ilmu dan wawasan yang luas, pergaulannya sudah internasional dan yang sudah pasti lagi dia menguasai bahasa asing sebagai modal pergaulannya. Anda boleh setuju atau tidak dengan pendapat saya ini tentunya, tetapi silahkan mengutarakannya.

Mungkin di benak anda muncul pertanyaan, apakah tidak bertentangan pernyataan (kedua) itu dengan Al-Qur’an itu sendiri yang menyebut bahwa Muhammad adalah nabiyyil ummiyyi. Pengertian ummi di sini bukan bodoh ataupun tolol, tetapi pengertian ummi di sini adalah ‘Orang yang tidak tahu’. Pemikirannya adalah bahwa ‘orang yang tidak tahu’ itu belum tentu pengertiannya sama dengan ‘bodoh’. Dan saya cenderung mengartikan ummi seperti itu karena Muhammad tidak tahu apa yang harus baca dan bagaimana caranya memperbaiki moral bangsanya yang sudah bejat saat itu.

Selanjutnya Jibril membacakan beberapa ayat dari surat Al-Alaq (96) yang kemudian diikuti oleh Muhammad dengan lancar dan fasih: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (96 : 1 – 5)

Inilah ayat yang pertama turun yang menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Tapi kita perlu ketahui bahwa Al-Qur’an ini benar benar wahyu Allah, bukan rekayasa bangsa Arab dan bukan hanya untuk bangsa Arab saja. sehingga Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami yang benar-benar menjaganya”.(15 : 9) Para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan yang dimaksud dengan “Kami” di sini bahwa Allah juga melibatkan orang-orang mu’min yang huffadh (hapal) Qur’an untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an. Makanya tidak pernah terputus dan habis pada tiap-tiap generasi para penghafal Al-Qur’an selalu bermunculan. Maka tidak aneh jika ada orang yang berniat merubah dan menyelewengkan kebenaran Al-Qur’an pasti akan ketahuan. Wallaahu ‘alam bishshowaab.


Sumber : http://ofaragilboy.com/17-ramadhan-malam-nuzulul-quran.html

17 Ramadhan, Malam Nuzulul Qur’an

Turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) untuk yang petama kalinya biasa diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang disebut dengan Nuzulul Qur’an. Turunnya Al-Qur’an untuk yang pertama kalinya merupakan tonggak sejarah munculnya satu syari’at baru dari agama tauhid yaitu agama Islam. Sebagai penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya.

Al-Qur’an turun sebagai pemecah kebuntuan di saat bejatnya moral bangsa Arab sudah sampai pada puncaknya, budaya jahiliyah lagi merajalela, barbarismenya hukum padang pasir dengan filosofi siapa yang kuat dialah yang menang dan hancurnya tatanan kemasyarakatan karena tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karena itulah Allah membuat satu penyelamatan dengan sebuah skenario yang jitu yang menyelamatkan bangsa Arab dari kehancuran dengan diutusnya seorang nabi akhir zaman yaitu Muhammad saw.

Menurut tarikh Islam, Al-Qur’an turun untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad sedang berkhalwat (semedi) di gua Hira. Firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”(97:1). Yang dimaksud dengan malam kemuliaan menurut para ulama adalah malam Lailatul Qadar. Atau dalam ayat lain Allah mengatakan: “Haa miim [Demi kitab (Al-Qur'an ) yang menjelaskan]. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (44 : 1 – 3). Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 km dari kota Makkah. Di gua itulah Muhammad merenung dan berfikir meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk merubah moral bangsanya yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah beliau didatangi Malaikat Jibril yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya, dan saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Yang paling menarik dari proses turunnya wahyu itu adalah disaat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk iqra (membaca). Jibril mengatakan: “Iqro yaa Muhammad !” (Bacalah hai Muhammad). Saat itu Muhammad menjawab:“Maa ana biqori?”. Untuk pengertian ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa pengertiannya adalah “Bukanlah aku orang yang bisa baca?”. Atau ada juga yang mengartikan “Apa yang harus aku baca?”. Konotasinya adalah jika kita mengambil pengertian yang PERTAMA berarti kita menganggap Muhammad tidak bisa membaca (bodoh). Sedangkan pengertian yang KEDUA konotasinya adalah bahwa Muhammad bisa baca tapi dia bingung apa yang harus dibacanya.

Penulis sendiri sependapat dengan pengertian yang KEDUA, yaitu Muhammad bisa baca tapi bingung apa yang harus dibacanya, bagaimana pendapat anda?. Karena pengertian yang pertama sepertinya sangat merendahkan Muhammad Rasulullah. Dan ini mengandung unsur pelecehan kepada nabinya umat Islam. Sementara sejarah sudah membuktikan sejak dari usia 12 tahun Muhammad sudah biasa diajak berdagang ke luar negeri dan sudah terbiasa dengan transaksi jual beli di negeri orang bersama pamannya (Abu Thalib) yaitu ke negeri Syam atau Syiria (sekarang Suriah). Menurut logika orang sehat, bahwa mustahil orang yang sudah sejak kecil belajar dan melakukan berdagang ke luar negeri yang levelnya sudah eksport import, apalagi disaat beliau berusia 25 tahun sudah dipercaya sebagai saudagar dan menjadi orang kepercayaan Siti Khodijah (yang nantinya menjadi istri beliau) itu dikatakan sebagai orang bodoh. Sangat ironis memang kedengarannya, tapi itulah yang sering didengung-dengungkan orang bahkan dibesar-besarkan oleh umat Islam sendiri. Padahal itu adalah hasil kerjanya para orientalist yang bertujuan meremehkan umat Islam. Menurut penulis sendiri orang yang sudah terbiasa pulang pergi ke luar negeri pasti mempunyai ilmu dan wawasan yang luas, pergaulannya sudah internasional dan yang sudah pasti lagi dia menguasai bahasa asing sebagai modal pergaulannya. Anda boleh setuju atau tidak dengan pendapat saya ini tentunya, tetapi silahkan mengutarakannya.

Mungkin di benak anda muncul pertanyaan, apakah tidak bertentangan pernyataan (kedua) itu dengan Al-Qur’an itu sendiri yang menyebut bahwa Muhammad adalah nabiyyil ummiyyi. Pengertian ummi di sini bukan bodoh ataupun tolol, tetapi pengertian ummi di sini adalah ‘Orang yang tidak tahu’. Pemikirannya adalah bahwa ‘orang yang tidak tahu’ itu belum tentu pengertiannya sama dengan ‘bodoh’. Dan saya cenderung mengartikan ummi seperti itu karena Muhammad tidak tahu apa yang harus baca dan bagaimana caranya memperbaiki moral bangsanya yang sudah bejat saat itu.

Selanjutnya Jibril membacakan beberapa ayat dari surat Al-Alaq (96) yang kemudian diikuti oleh Muhammad dengan lancar dan fasih: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (96 : 1 – 5)

Inilah ayat yang pertama turun yang menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Tapi kita perlu ketahui bahwa Al-Qur’an ini benar benar wahyu Allah, bukan rekayasa bangsa Arab dan bukan hanya untuk bangsa Arab saja. sehingga Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami yang benar-benar menjaganya”.(15 : 9) Para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan yang dimaksud dengan “Kami” di sini bahwa Allah juga melibatkan orang-orang mu’min yang huffadh (hapal) Qur’an untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an. Makanya tidak pernah terputus dan habis pada tiap-tiap generasi para penghafal Al-Qur’an selalu bermunculan. Maka tidak aneh jika ada orang yang berniat merubah dan menyelewengkan kebenaran Al-Qur’an pasti akan ketahuan. Wallaahu ‘alam bishshowaab.


Sumber : http://ofaragilboy.com/17-ramadhan-malam-nuzulul-quran.html

Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadr

Ketika memasuki malam yang ke 17 di bulan Ramadhan sebagian kaum muslimin dan masjid-masjid mulai diadakan peringatan turunnya al-Quran pertama kali yang disebut malam peringatan Nuzulul Quran. Hal ini juga ‘terkesan’ dikuatkan dengan catatan kaki dalam “al-Quran dan Terjemahnya”surat adh-Dhukhan ayat 3.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

[1369] malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Keyakinan ini bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’alaa dalam surat al-Qadr ayat pertama:

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].”

[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran.

Ayat diatas dengan jelas bahwa al-Quran diturunkan pada malam kemulian (Lailatul Qadar) dan juga Terlihat jelas bahwa catatan kaki untuk ayat di atas dalam “al-Quran dan Terjemahnya” juga menjelaskan bahwa malam permulaan turunnya al-Quran adalah pada malam tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, malam dimana al-Quran itu turun ? apakah benar pada 17 Ramadhan seperti yang selama ini oleh sebagian kaum muslimin Indonesia mempertingatinya ?

Nabi shallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada kita tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadar. Beliau pernah bersabda:

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Beliau shallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir”(Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dengan demikian telah jelas bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka gugurlah keyakinan sebagian kaum muslimin yang menyatakan bahwa turunya al-Quran pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan. Oleh karena itu hendaknya kaum muslimin meninggalkan acara-acara semacam ini untuk memperingati turunnya al-Quran karena acara-acara ini muncul dari pendapat yang hanya sekedar anggapan umumnya kaum muslimin di Indonesia seperti yang tertulis dalam catatan kaki ”al-Quran dan Terjemahnya” dan tidak ada sama sekali dalil baik dari al-Quran dan al-Hadist yang menguatkan bahwa al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan.

Jika ada yang berargumen, “Tanggal 17 Ramadhan yang dimaksud adalah turunnya al-Quran ayat pertama ke dunia kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5, sedangkan Lailatul qadar pada surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran seluruhnya dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia !!?”.

Maka jawabnya: Benar, bahwa turunnya al-Quran yaitu pada Lailatul qadar seperti yang tertuang dalam surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, dan setelah itu al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Seperti perkataan Ibnu Abbas radliyallahu’anhu dan yang lainnya ketika menafsirkan QS. Ad-Dukhon ayat 3:

“Allah menurunkan al-Quran sekaligus daru Lauh Mahfudz ke baitul izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Tetapi apakah ini menjadikan bahwa benar nya pendapat bahwa turunnya ayat pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah 17 Ramadhan ?? Silahkan disampaikan dalil berupa ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jika memang demikian !!. Wallahua’lam

Yang bisa dipetik dari pembahasan di atas

  1. Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar bukan pada malam yang dikenal dengan malam ‘Nuzulul Quran’ yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan
  2. Peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan dengan dzikir tertentu dan bentuk pengajian khusus adalah bentuk peringatan yang tidak pernah ada landasannya dari al-Quran dan Hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, sehingga termasuk dalam perkara bid’ah.
  3. Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir yang ganjil dibulan Ramadhan.
  4. Peringatan lailatul qadar pada malam 27 Ramadhan (atau malam ganjil lainnya) dengan suatu pengajian khusus juga merupakan bid’ah karena Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memperingatinya melainkan beliau shallahu’alahi wa sallam menghidupkan malam tersebut dengan qiyamul lail dan memperbanyak doa.
  5. Himbauan kepada para penanggung jawab “al-Quran dan Terjemahnya”agar meluruskan catatan kaki atau takwil-takwil dari ayat suci al-Quran yang hanya merupakan anggapan-anggapan yang tidak berdalil atau bahkan tafsiran/takwil yang bathil.

Referensi

  • Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul Quran pada bulan Romadhon. Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8 1429/ 2008
  • Abu Musa al-Atsari. Lailatul Qadar Malam Kemulian. Majalah adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1 1429 H
  • Al-Quran dan Terjemahnya
  • http://maramissetiawan.wordpress.com
 
coompax-digital magazine